Tampilkan postingan dengan label Sejarah TNI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah TNI. Tampilkan semua postingan

Rabu, 31 Mei 2017

Kisah Prabowo Menangkap Dua Agen Australia di Papua Nugini

Prabowo Subianto saat ditugaskan di Papua tahun 1980
Kejadiannya sekitar pertengahan tahun 1980-an. Saat itu pangabnya LB Moerdani kalau tidak salah. Dia udah lama nerima laporan intel kalau OPM sering mendapat pasokan senjata yg diselundupkan dari Papua Nugini (PNG). Ketika dikonfirmasi ke otoritas PNG, mereka tidak tahu menahu mengenai hal tersebut. Akhirnya Benny memutuskan untuk mengambil langkah sendiri untuk mengidentifikasi siapa/negara mana yang bermain. Caranya? ya langsung masuk ke wilayah PNG tanpa permisi.

Yang ketiban untuk melaksanakan tugas ini adalah Den 81 yang saat itu dipimpin oleh Prabowo. Sasaran mereka adalah suatu lokasi di wilayah PNG, sekitar 50 km dari tapal batas perbatasan dengan Indonesia. Pasukan ini berangkat dari Jayapura naik heli, kemudian sampai di suatu tempat dan melanjutkan misi dengan perahu karet agar tidak terdeteksi otoritas PNG.

Perjalanan dengan perau karet menuju lokasi sasaran terhadang oleh besarnya ombak (dini hari) di perairan sebelah utara PNG. Seorang anggota Kopassus sampai terluka cukup parah untuk mempertahankan perahu dari terjangan ombak. Akhirnya mereka berhasil sampai di titik pendaratan, dan langsung bergerak menuju lokasi sasaran.

Setiba di lokasi, unit kopassus ini segera mencari tempat-tempat yang dicurigai sebagai lokasi penimbunan pasokan senjata. Namun hasilnya nihil. Tapi mereka tidak menyerah. Setelah menunggu selama dua hari dua malam, akhirnya mangsa mereka muncul. Dua orang kulit putih muncul dari balik rimbunnya hutan PNG, melintasi posisi pasukan kopassus yag sama sekali tidak mereka rasakan keberadaannya.

Segera kedua orang ini diamankan. Setelah diperiksa dan diinterogasi, keduanya diketahui sebagai agen Australia. Mereka kemudian menunjukkan lokasi tempat helikopter Australia mengedrop pasokan senajata dan amunisi untuk OPM. Sayang, karena persediaan menipis, Kopassus tidak punya waktu untuk menunggu sampai terjadinya pengedropan tersebut.

Kedua bule itu dibawa kembali ke Indonesia. Dan beberapa bulan kemudian diekstradisi ke Australia. Sejak saat itu, Australia tidak berani bertindak macam-macam lagi (mungkin karena malu ketahuan). Mereka juga baru sadar kalau kopassus mampu melakukan operasi jauh di dalam wilayah musuh. Bahkan tidak menutup kemungkinan kopassus bisa beroperasi di pedalaman Australia tanpa terdeteksi. Inilah yang kemudian membuat nama Kopassus sangat disegani oleh tentara Aussie.

Cerita lengkapnya ada di buku Kopassusnya Ken Conboy

Senin, 22 Mei 2017

Ternyata Banyak Warga Etnis China Yang Menjadi Prajurit di TNI dan Menduduki Jabatan Penting

William Irawan, Salah Satu Etnis Tionghoa  Yang Masuk Akademi TNI

Sejarah Indonesia dibentuk oleh berbagai tokoh dari berbagai latarbelakang, termasuk warga China Tionghoa.  Warga Etnis China juga banyak yang berkiprah menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia. Sayangnya, kiprah penting mereka di TNI ditutupi oleh kebijakan anti China Presiden Soeharto.

“Tiga dekade Orde Baru berkuasa telah menyembunyikan peran-peran Tionghoa kepada negara,” kata pengamat militer, Jaleswari Pramodhawardani dalam diskusi buku Tionghoa dalam Sejarah Kemiliteran karya Iwan “Ong” Santosa, di Gedung Joang 45, Jakarta Pusat (4/12).

Oleh karena itu, kata Jaleswari, sejarah harus dikritisi karena banyak yang direduksi. Buktinya, buku ini menguak peran-peran Tionghoa dalam kemiliteran yang tidak dimuat dalam buku-buku sejarah. Buku ini menapaktilasi peran Tionghoa, mulai dari zaman kerajaan-kerajaan Nusantara, kolonial Belanda, revolusi Indonesia, hingga awal Orde Baru (1966-1967), dan sekilas era reformasi.

Tionghoa yang melegenda dalam militer adalah Laksamana Muda John Lie. Dia menjadi Pahlawan Nasional pertama dari etnis Tionghoa. Selain dia, masih banyak Tionghoa lainnya yang berkiprah dalam kemiliteran yang termuat dalam buku ini.

Sonny Adrianto, Asintel Kodam Jayakarta, mengatakan bahwa selama Orde Baru, khususnya pasca peristiwa Gerakan 30 September 1965, peran Tionghoa dalam kemiliteran berkurang. “Mungkin akibat stigma negatif bahwa golongan Tionghoa dekat dengan golongan komunis saat peristiwa 1965,” kata Sonny.

Kendati demikian, Sonny, menunjukkan beberapa Tionghoa yang justru memegang posisi strategis di kemiliteran: Teguh Santosa (Tan Tiong Hiem) mantan wakil asisten perencanaan Kasad (1993-1995); Iskandar Kamil (Liem Key Ho) mantan kepala badan pembinaan hukum (1998); Teddy Yusuf (Him Tek Ji) komandan resort militer 131 Manado (1995); dan Bambang Soembodo, asisten logistik kepala staf umum (1996-1999).

Mayjen Gede Sumertha, kepala satuan pengawas Universitas Pertahanan, menyebut nama Surya Margono, seorang muslim Tionghoa asal Kalimantan Barat yang pernah menjadi atase udara di kantor atase pertahanan Indonesia di Tiongkok, yang kemudian berdinas di Kementerian Pertahanan.

Gede sendiri menceritakan pengalamanya ketika masuk Akademi Militer Negara, diasuh oleh dua pengasuh bernama, Hendra dan Totok. “Hendra, seorang Tionghoa dipanggil Acong. Dia pengasuh paling galak dan cerewet. Tetapi anak didiknya berhasil semua,” kenang Gede.

Dalam acara ini, hadir juga seorang tentara Tionghoa, Hendra K. (30 tahun), yang bertugas di Bravo 90 Penanggulangan Teror. Orangtuanya terpaksa menyingkat namanya menjadi Hendra K., karena kalau “Hendra Kho” akan menimbulkan masalah pada masa Orde Baru.

“Saat masa pendidikan dulu, oleh pelatih, saya sering dipanggil Dji Sam Soe. Sebab nomor helm saya 234,” ujar Hendra. Dia masuk tentara karena terispirasi kakeknya yang datang dari Tiongkok sekira tahun 1912-an. “Dan ketika disini, dia juga mengangkat senjata,” kata pria asal Jambi ini.

Dalam sambutannya, Iwan Ong menyatakan, buku yang ditulisnya selama tiga tahun ini bukan tentang kelompok etnis tertentu, dalam hal ini Tionghoa. “Tapi, ini tentang kita. Tentang ke-Indonesia-an,” ujar Iwan.

Hal senada dikemukakan Jaleswari, bahwa buku ini bukan tentang statistik berapa banyak orang Tionghoa berperan dalam kemiliteran. Tetapi yang terpenting, buku ini memberikan pesan akan pentingnya kesetaraan dan kebhinekaan. 

Sumber : Historia

Sabtu, 20 Mei 2017

Tiga Bukti Kelemahan TNI, Terlalu Mudah Kasihan!

Aksi prajurit wanita TNI. Foto: BBC


Walau memiliki prestasi mentereng dan selalu dipuji dalam setiap latihan militer multilateral bersama negara lain. Namun Tentara Nasional Indonesia juga memiliki kelemahan. Terutama bila kita melihat sejarah TNI dalam operasi militer menumpas pemberontakan yang mengancam Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Kelemahan itu adalah TNI terlalu memiliki jiwa belas kasih. Dalam setiap generasi TNI dari sejak perang Kemerdekaan sampai sekarang, dari Panglima sampai prajurit, jiwa belas kasih sebagai akar budaya Nusantara ini susah sekali dihilangkan.

Berikut adalah contoh potret jiwa belas kasih yang terlalu berlebihan yang dimiliki TNI pada musuh-musuhnya:
Kapten Reymond Westerling. Gambar: historia.co.id


1. Capten Reymond Westerling

Siapa yang tak jenderal yang satu ini, dia adalah salah satu komandan pasukan NICA Belanda paling kurang ajar selama perang kemerdekaan. Tapi setelah pengakuan kemenangan RI oleh Belanda lewat Konferensi Meja Bundar tahun 1949, orang ini malah diampuni atas segala kekejamanya pada rakyat Sulawesi selama masa Revolusi.

Timbal baliknya? setelah diampuni Westerling malah memimpin lagi pemberontakan APRA di Bandung. Sekali lagi Westerling kalah dan tertangkap dalam pemberontakan yang membunuh ratusan orang di kota Bandung. Saat ditangkap, kenapa gak ditembak mati aja ya?

Westerling akhirnya dibawa ke pengadilan lalu divonis mati. Nah setelah vonis mati, dirinya malah kabur ke Singapura lalu kemudian pulang ke Belanda. Dan saat tiba di kota Denhaag disambut meriah rakyat Belanda selayaknya pahlawan.

Xanana Gusmao saat ditangkap oleh aparat ABRI tahun 1992. Foto: roda2blog.com


2. Xanana Gusmao
Lagi-lagi hulubalang negeri ini memperlihatkan rasa belas kasihanya. Xanana Gusmao adalah musuh utama negara yang menggerakkan kelompok bersenjata di Timor Timur untuk memberontak pada NKRI. Saat berhasil ditangkap, kenapa sih gak ditembak mati aja? dia malah seenaknya pamer senyuman. Padahal jika ditembak mati pun tak akan ada yang protes atau menuntut HAM.

Seperti halnya yang menimpa para komandan makar di NKRI dalam sejarah awal kemerdekaan, seperti DN Aidit, Kartosuwiryo dan Tan Malaka.

Penglima GAM Abdullah Syafii akhirnya ditembak mati TNI tahun 2000 setelah pamer foto ini. Sayangnya, TNI kemudian memilih berdamai dengan GAM. 


3. Gerakan Aceh Merdeka

Dengan alasan bencana alam, pemerintah memutuskan menempuh jalan perundingan damai. Padahal dalam sebelum Tsunami tahun 2004 itu terjadi, GAM telah mengalami kelumpuhan militer 95%. Hampir semua panglima komando tempur AGAM juga sudah tewas di tangan TNI.

Untuk apa mengadakan perjanjian pada sebuah organisasi yang sekarat diambang maut?. Sebuah langkah yang patut ditanyakan.

Tanpa adanya upaya damai, orang-orang Aceh juga akan memahami bahwa setelah tragedi itu terjadi pemerintah NKRI lebih banyak berbuat untuk rekonstruksi daripada GAM dan serta merta menyadari bahwa GAM sudah tidak relevan lagi.

Bandingkan dengan perlakuan Amerika Serikat pada Saddam Husein atau musuh-musuhnya yang lain. Kalau ketemu, kena ya dihukum mati. 

Sumber: roda2blog.com